Mataku menatap ke setiap sudut sekolah yang berada di bawahku, menjelajahi setiap meternya yang dipenuhi oleh hiruk-pikuk siswa-siswi berseragam putih-abu.
Di mana dia? Pikiranku tak henti-hentinya mengatakan hal yang sama berulang kali, memaksa mataku bekerja lebih keras untuk menemukan sosok yang kucari.
Ah, itu dia rupanya. Berdiri santai dengan tubuhnya yang tegap dan pakaian rapi khas pengibar bendera (anggap gw gak pernah nyebut clue yang sangat jelas ini), bercanda riang dengan teman-teman ceweknya di depan kelas mereka. Kentara sekali terlihat cewek-cewek itu mempunyai perasaan yang sama dengan anak-anak yang melihat Disneyland untuk pertama kalinya. Dan sama seperti anak-anak itu yang tidak mempedulikan wajah orangtuanya berubah ‘pasrah’ setelah membayar tiket masuk, cewek-cewek ini pun tidak mempedulikan pandangan-pandangan iri di sekeliling mereka yang datang dari orang-orang bernasib (kurang lebih) sama denganku. Well, setidaknya dalam hal tidak-terlalu-mengenal-Mr.Right, kami sama.
Dan, oh! Dia tersenyum! Hanya satu kata yang bisa kucerna saat hal ini terjadi: ASTAGA.
Lesung pipit yang menghiasi tawa di wajahnya sungguh membuat setiap cewek tidak akan melirik Brad Pitt ataupun Chace Crawford untuk yang kedua kalinya.
Well, terserah kalau kalian mau menganggapku overtalked atau apa, tapi memang kurang lebih seperti itulah yang kurasakan. Walaupun tentu saja jika ada Chace Crawford lewat di depan mataku aku tidak mungkin bisa menahan kakiku menghampiri (baca: berlari) ke arah Magnet-Cakep-Berjalan itu.
Tapi walaupun dia tidak secakep n setenar si Magnet Berjalan, setidaknya si Mr. Right bisa membuatku melupakan nilai-nilai ulanganku yang bisa dibilang tidak lebih baik dari dimarahi ibuku pada hari Minggu pagi (baca: SANGAT BURUK).
Ah, lupakan metafor yang membuat kening kalian berkerut itu.
Kita teruskan saja kisah-setengah-nyata nan memilukan ini.
Aku menuruni tangga dengan sedikit terlalu cepat dan hampir terpeleset karenanya, lalu setelah berada pada anak tangga paling bawah, aku berhenti sesaat, berusaha mendapatkan kembali kendali atas kedua kakiku dan berusaha menenangkan jantungku yang memompa darah kelewat cepat ini.
Dia tidak lebih dari 7 meter di depanku sekarang. Dan dengan wajahnya yang terlihat lebih jelas sekarang ini, mencegah lututku bergetar dan jantungku berdebar adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan.
Dan sebelum aku sempat mengambil keputusan yang lebih gila lagi, tiba-tiba sang Mr. Right menatap tepat ke arah wajahku.
Wew.
Siapa sih yang masang AC segini dinginnya??
Dan setelah menyadari pahitnya kenyataan bahwa di sekolah ini tidak pernah kedatangan makhluk pendingin ruangan itu, wajahku semakin mirip dengan warna lipstik favoritnya Blair Waldorf – MERAH BANGET, kalau kalian belum tau.
Hm. Pemanasan global memang jago dalam urusan mencairkan es, tapi ternyata tidak sejago si Mr. Right dalam urusan mencairkan hati cewek. =p
Cukup, cukup. Hentikan tawamu dan pergilah ke toilet kalau isi perutmu sudah meminta untuk dimuntahkan.
Sudah? Kita lanjutkan.
Hey, jangan kira ini adalah pertama kalinya aku memperoleh senyuman Prince Charming-nya. Karena – jangan salah, kami sudah saling mengenal sejak aku masih kelas 1 SMP – aku masih ingat dengan baik saat pertama kalinya aku melihat dia memimpin upacara pagi n bagaimana dia membuat rasa kantukku hilang dalam sekejap.
Namun tidak kusangka, setelah 2 tahun berpisah, kami bisa dipertemukan kembali dalam satu sekolah (walaupun tahun depan kami akan terpisah lagi karena dia akan menuju universitas impiannya). Aku bersyukur karena itu.
Tapi tetap saja. Walaupun kita sudah lama saling mengenal, dan tidak jarang pula kami mengobrol (bahkan aku pernah nekat untuk meneleponnya dulu), tapi tampaknya dia masih tetap saja tidak menyadari perasaanku yang persis sama dengan salah satu judul film yang dibintangi Ashton Kutcher itu.
Ya, benar. Padahal tulisan “A Lot Like Love” itu sudah terpampang jelas di keningku yang lebar ini, tapi rupanya dia tidak mengerti bahasa yang digunakan cewek-dari-Planet-Mars-yang-sedang-jatuh-cinta-ini atau apa.
Jadi APA YANG HARUS KULAKUKAN ???!!!!!
Apa aku harus berlari ke mesjid terdekat lalu meneriakkan hal-hal bodoh di depan microphone tukang adzan agar dia – dan seisi sekolah – tau perasaanku yang sebenarnya???!!
Oh bagus sekali. Bukannya Mr. Right yang muncul menghampiriku dengan wajah-terharu-versi-komik-serial-cantik, tapi aku yakin Pak Satpam-lah yang akan menyeretku menuju ruang Kepala Sekolah untuk membuat surat ijin dipulangkan ke RSJ Riau 11.
Hhhhhh….
Cowok cakep gak selamanya bikin hidupmu tenang.
Well, mungkin kau BISA sangat tenang saat kau sudah memilikinya, tapi saat dia masih bebas berkeliaran, jangan kira kau bisa tidur dengan mudah.
OK, back to the topic.
Setelah diberi senyuman mematikan itu, bukannya aku menghampiri lalu menyapanya atau apa, aku malah dengan – terlalu – cepat mengambil langkah seribu.
Inilah yang menjadi masalahku selama ini.
Setiap kali aku berada di dekatnya dan mata kami saling bertatapan, aku tiba-tiba berubah menjadi gagu (dalam arti konotatif).
Seperti yang kualami beberapa hari sebelumnya, saat kami berpapasan di gerbang sekolah, aku hanya bisa membalas senyumnya dan langsung berjalan menuju kelasku dengan kecepatan abnormal.
Hm. Sampai mana tadi? Oh iya.
Malam hari setelah kejadian itu, tiba-tiba aku membulatkan tekad dan menyingsingkan lengan bajuku (loh?) untuk mengirim pesan kepada sang Mr. Right. Aku sudah bertekad, apapun yang terjadi, aku akan menyatakan perasaanku padanya. Dan apapun reaksi dan jawaban darinya, aku tidak peduli. Yang penting aku tidak usah menahannya sendirian lagi.
Dengan berat aku melangkah menuju kamarku, mengambil handphone-ku, dan memandanginya dengan ragu. Lalu setelah berpikir beberapa saat, aku mulai mengetikkan huruf-huruf konyol itu satu-persatu.
Dan sebelum aku menekan tombol Send, sekali lagi aku membaca pesan itu:
“Hi k, slmt brjuang ya bwt UANnya!”
Send.
Hhh… Aku benar-benar kecewa pada diriku sendiri.